Anto Narasoma

Jumat, 22 Februari 2008

Cerpen (7)

›
Akulah Momo Kelana Wajah tua Pak Momo terlihat kuyu dan pucat. Ia tampak lelah. Karena usianya yang sudah memasuki tahapan kepala tujuh (70...

Cerpen (6)

›
Ki Dalang Kastono Citro SUDAH hampir lima bulan ini Ki Dalang Kastono Citro tidak mendapat order ndalang. Padahal di kampung seberang, keti...

Cerpen (5)

›
Ketika Badai Itu Menerjang Tekad Teuku Mudien sudah bulat. Rencana pernikahan itu akan dilaksanakan bulan Januari nanti. Pokoknya har...

Cerpen (4)

›
Paket Lebaran Penebar Maut Hari kedua puluh Ramadan, keluarga muslim pasti repot untuk persiapan Idul Fitri. Terutama memersiapkan pakaian ...

Cerpen (3)

›
Bohak MALAM semakin tua. Cahaya bulan berwarna keemasan di langit lepas, menerobos lewat kisi-kisi dinding penjara. Bulatnya sudah tidak be...

Cerpen (2)

›
PAK HAJI DOBLANG SEJAK dua tahun terakhir, aku kurang simpatik dengan sikap Pak Haji Doblang. Selain angkuh, ia juga kurang menghargai oran...

Cerpen (1)

›
Petak-petak catur Sepulang tahlilan dari rumah sepupunya yang tewas terbunuh, perasaan Paitok was-was. Terkadang, dalam perjalanan pulang k...
‹
Beranda
Lihat versi web

Mengenai Saya

Anto Narasoma
Dilahirkan di Palembang 16 Juni 1960. Sejak di Sekolah Dasar ia sudah akrab dengan dunia sastra. Setamat SMA ia bergabung dengan Teater SAS Palembang, kemudian Teater Potlot Palembang. Sebagai pekerja teater ia sering ditunjuk sebagai penata musik di beberapa kelompok teater, dan pernah memainkan beberapa peran dalam pertunjukan drama. Sejumlah tulisannya berupa cerita pendek, puisi, artikel telah dimuat di beberapa media cetak terbitan daerah dan pusat. Puisi-puisinya dimuat dalam antologi Ghirah (1992), Bahasa Angin (1994), Menghitung Duka (1988),Empat Wajah (2000), dan Semangkuk Embun (2005. Kini ia bekerja sebagai wartawan Sumatera Eskpres Palembang. Email: antonarasoma@gmail.com Kontak:081367459281, (0711)415263, 415264
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.