Anto Narasoma

Jumat, 22 Februari 2008

Cerpen (9)

›
Kim Hok Lay NAMA itu menjadi buah bibir masyarakat. Dia seorang pengusaha muda. Parlente, ganteng, dan mempunyai rasa sosial yang BEGITU ti...

Cerpen (8)

›
Racun Sejak menderita disentri, bobot tubuh Soleh merosot tajam. Wajahnya pucat dan menyiratkan penderitaan yang disembunyikan. Kalau bisa, ...

Cerpen (7)

›
Tamu Malam Hari Sejak harga BBM naik, dagangan Bahar benar-benar anjlok. Omset dagangannya yang semula diperoleh Rp 1.000. 000 sehari, kini ...

Cerpen (7)

›
Gadis Panggilan di Kelokan Jalan Baru tiga kali ketemu gadis itu, aku merasa simpati pada sikapnya yang sederhana. Selain tidak banyak memin...

Cerpen (7)

›
Akulah Momo Kelana Wajah tua Pak Momo terlihat kuyu dan pucat. Ia tampak lelah. Karena usianya yang sudah memasuki tahapan kepala tujuh (70...

Cerpen (6)

›
Ki Dalang Kastono Citro SUDAH hampir lima bulan ini Ki Dalang Kastono Citro tidak mendapat order ndalang. Padahal di kampung seberang, keti...

Cerpen (5)

›
Ketika Badai Itu Menerjang Tekad Teuku Mudien sudah bulat. Rencana pernikahan itu akan dilaksanakan bulan Januari nanti. Pokoknya har...
‹
›
Beranda
Lihat versi web

Mengenai Saya

Anto Narasoma
Dilahirkan di Palembang 16 Juni 1960. Sejak di Sekolah Dasar ia sudah akrab dengan dunia sastra. Setamat SMA ia bergabung dengan Teater SAS Palembang, kemudian Teater Potlot Palembang. Sebagai pekerja teater ia sering ditunjuk sebagai penata musik di beberapa kelompok teater, dan pernah memainkan beberapa peran dalam pertunjukan drama. Sejumlah tulisannya berupa cerita pendek, puisi, artikel telah dimuat di beberapa media cetak terbitan daerah dan pusat. Puisi-puisinya dimuat dalam antologi Ghirah (1992), Bahasa Angin (1994), Menghitung Duka (1988),Empat Wajah (2000), dan Semangkuk Embun (2005. Kini ia bekerja sebagai wartawan Sumatera Eskpres Palembang. Email: antonarasoma@gmail.com Kontak:081367459281, (0711)415263, 415264
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.