Jumat, 22 Februari 2008

Cerpen (7)

Akulah Momo Kelana



Wajah tua Pak Momo terlihat kuyu dan pucat. Ia tampak lelah. Karena usianya yang sudah memasuki tahapan kepala tujuh (70 tahun), membuat wajahnya yang kusam tak bercahaya itu dipenuhi keriput dan kumis memutih. Apalagi dalam beberapa hari terakhir ia terserang diare, membuat bobot tubuhnya merosot tajam.
Yang membuat Pak Momo lebih menderita, di usianya yang demikian sepuh itu, ia hidup sendirian di sebuah kamar bedeng seng berukuran 2,5x3 meter. Suasananya panas dan sumpek. Ia hidup bersebelahan dengan Bu Siti, yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung. Kebetulan pula, di samping pondokan mereka terdapat trailer sampah yang menebarkan aroma tak sedap. Tadinya, kawasan itu merupakan lahan kosong milik pengusaha keturunan yang bergerak di bidang otomotif. Tapi sang pengusaha tak keberatan jika ada warga miskin yang tak punya tempat tinggal membangun bedeng pondokan di tanah itu. Nanti, jika lahan itu diperlukan pemiliknya, mereka harus mengosongkan kawasan itu tanpa ganti rugi.
Dalam suasana tak sehat seperti itulah Pak Momo menekuri sisa hidupnya di ruangan sempit. Ia dikenal masyarakat di sekitarnya sebagai seniman musik miskin dan tidak beruntung. Nasib buruknya itu memaksa ia harus hidup serba kekurangan dan jarang memperoleh asupan gizi dan vitamin yang baik.
Padahal, di masa mudanya dulu, ia mendapat julukan, Momo Kelana sang pemain ‘’biola maut’’. Gesekan biolanya, selain halus mendayu, perpindahan dari nada ke nada di jarinya, begitu cepat dan memikat siapa pun. Terutama ketika dia melantunkan musik klasik, Mozart, wuih, hebatnya bukan main.
Makanya, para seniman musik muda yang ada di daerahnya tidak menyangka jika di pengujung usianya Pak Momo hidup dalam kemiskinan yang demikian mendera. Bahkan, sudah tiga hari ini ia mencret-mencret. Kemarin, secara tak sadar, ketika Pak Momo pulang mandi dari sumur di ujung lorong, di sepanjang perjalanan ke rumahnya, ia mencecerkan kotoran dari bawah sarungnya.
‘’Tua bangka tak tahu diri,’’ begitu caci-maki warga setempat sembari menutup lubang hidungnya.
‘’Barangkali dia itu sudah nyusu (bahasa Palembang: pikun),’’ sentak warga lainnya.
Mendengar itu Bu Siti menyela mereka. ‘’Sshh, kita tidak boleh menyaci-maki seperti itu kawan-kawan. Diakan sudah tua, dan tidak punya sanak keluarga lagi. Sedangkan dalam kondisi begitu tidak ada orang yang mengurusnya. Maklum saja ya, Pak Momo sedang menderita diare. Jadi saya minta tolong, janganlah menyaci-maki dia. Kasihanilah orang tua yang malang itu, ya’’.


****

Suatu siang di kamarnya yang sumpek, Pak Momo berbaring di atas sehelai kertas koran edisi minggu pertama bulan lalu. Atap dan dinding seng tempat ia bermukim makin memperparah diarenya. Wajahnya pucat bukan main. Sedangkan tubuhnya lemas tak berdaya. Bu Siti sudah menyarankan agar Pak Momo segera ke puskesmas.
‘’Tapi maaf Pak Momo, saya tak dapat mengantar ke sana, karena mau kerja (memulung) ke tempat pembuangan akhir (TPS). Soalnya hari ini banyak sampah baru yang dibuang ke sana. Siapa tahu banyak barang bekas yang dapat saya jual untuk menafkahi anak-anakku,’’ kata Ibu Siti pagi tadi.
Pak Momo hanya tersenyum rawan sembari mengangguk pelan. Bahkan responsnya hanya ia layangkan lewat kejapan lemah mata tuanya yang sayu. Itu terlihat dari balik kacamatanya yang tebal. Tapi sebelum Bu Siti pergi, wanita itu sempat meninggalkan singkong rebus dan secangkir kopi untuk Pak Momo di pinggir pintu tempat orang tua itu berbaring.
‘’Terima kasih Bu Siti,’’ujar Pak Momo. Suaranya terdengar lemah dan pelan sekali.
Sejam setelah kepergian Bu Siti, suasana siang di lingkungan itu dicekam keheningan. Karena jenuh, Pak Momo mencoba bangkit. Ia membuka kantong pembungkus biolanya dan mengeluarkan benda berharga miliknya itu. Lalu dipandangnya sejenak. Ia tersenyum getir. Kemudian dawai biola itu ia stem agar tak terdengar fals. Lalu benang stik biola itu ia balur dengan damar pemulas, agar kesat dan melahirkan gesekan suara yang bagus.
Tak lama di antaranya, suara biola Pak Momo merobek kesenyapan suasana. Kelembutan lengkingan biolanya menggambarkan rintihan hidupnya yang menderita luar biasa. Terutama ketika ia melantunkan lagu jazz klasik bertajuk I’m in The Mood for Love, membuat perasaan siapa pun akan tersentuh. Ternyata, kemampuan Pak Momo masih luar biasa. Di usianya yang senja, kemahirannya bermain musik masih menyisakan kekaguman bagi banyak orang.
Di masa mudanya dulu, lagu itulah yang melambungkan namanya di jagad musik inlander (bumi putra). Sebab, di lingkungan pemusik orang kulit putih (Belanda), Pak Momo sangat disayang gurunya, Hermaan van De Brink. Tiap kali tampil dalam Van De Brink Orchestra di Initium Ballroom, Momo selalu menjadi bintang. Seolah ia ingin mengatakan ke publik dunia bahwa akulah si Momo Kelana pencabik dawai ‘’biola maut’’. Apalagi pada masa kejayaannya Momo memiliki wajah tampan, tentu banyak gadis yang rela tenggelam ke dalam pelukannya.
‘’Godverdomzeg. Jij benar-benar zakelijk dengan orchesrtra ini, Momo. Ike nilai, jij punya anleeg (bakat) begitu besar di bidang muziek. Ike bangga kepada kamu orang. Lihatlah, banyak noni-noni yang ingin kenal sama jij punya diri. Coba jij lihat di bawah stage sana. Ayo temui mereka,’’ begitu Van De Brink memberi pujian sekaligus anjuran kepada Momo.
Karena kemahirannya bermain biola, kehidupannya menanjak tajam. Nasib baik selalu berpihak ke dirinya. Hidupnya selalu bertabur order, terutama diajak Van De Brink bermain musik untuk mengisi acara pada pesta pejabat Belanda dan Oriental Music. Pada masa kejayaannya, background kehidupan Momo digelimangi uang, minuman keras, wanita, dan pujian masyarakat. Dari dunia glamor itulah ia mampu mempersunting Chen Lie Moy ketika ia diminta untuk memperkuat kelompok Oriental Music di Initium Ballroom. Dari pernikahannya dengan Chen Lie Moy, Pak Momo mendapat dua anak.
Sayangnya, dalam ilustrasi hidup glamour seperti itu, Pak Momo tak pandai menghindari rongrongan minuman keras, judi, dan perempuan. Akibatnya, uang dan harta yang ia peroleh dari bermusik, ludes dibuat foya-foya.
‘’Bang Momo, aku memohon kepadamu agar kau dapat menghentikan sikap burukmu. Kasihan nasib anak-anak kita. Jika Abang terus-terusan begitu, bagaimana masa depan mereka?’’ ujar Chen Lie Moy dengan airmata berurai.
Karena pengaruh alkohol, Momo tersinggung. Emosinya pun meletup. Wajah istrinya ia pukul hingga memar, sedangkan bibir Lie Moy pecah berdarah. ‘’Kau tidak perlu mendikte aku. Yang penting uang belanja dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga kita aku cukupi. Jadi jangan banyak omong,’’hardik Pak Momo dengan roman muka bengis. Jika sudah begitu, Chen Lie Moy hanya bisa menangis dan diam seribu bahasa. Dalam hatinya, wanita keturunan Tionghoa itu sudah tak tahan lagi hidup bersama Momo.
Setelah pemerintah Indonesia menguasai teritorial wilayah pemerintahan sepenuhnya, Hermaan van De Brink pulang ke Nederland. Dalam kondisi seperti itu Pak Momo benar-benar terpukul. Terutama ketika istrinya kabur membawa dua anaknya. Momo benar-benar bangkrut. Ia hampir gila menghadapi dunia kesendirian yang begitu menyiksa. Ternyata, kebesaran karir musik di masa mudanya dulu tak seindah kehidupan rumah tangganya. Hingga kini, sudah tiga puluh tahun lebih ia ditinggal pergi istrinya. Sebagai seorang lelaki tua yang tak memiliki apa-apa lagi itu, ia benar-benar terpuruk.
‘’Chen Lie Moy, maafkan Abang’’. Itulah ucapan sesal yang meluncur lemah dari mulutnya yang ompong keriput. Rasa perih akibat diare kembali menggerogoti lambungnya. Kali ini sakitnya bukan main. Ia meringis dan menghentikan gesekan biolanya. Akibat rasa sakit yang tak tertahankan itu, sekujur tubuh Pak Momo menmgeluarkan keringat dingin.
‘’Ya Allah..,’’ begitu ia merintih. Ucapan religi dari mulut Pak Momo benar-benar surprise. Sebab, di sepanjang hayatnya, baru kali ini ia mengucapkan lafal Allah. Kemudian diam.
Bu Siti yang sudah tiga hari tak melihat bayangan Pak Momo, bertanya kepada tetangganya. Warga di lingkungan itu rata-rata bekerja sebagai pemulung dan penarik becak.
‘’Sudah seminggu ini saya tidak melihat dia, Bu,’’ ujar Pak Mamat sembari memilih kantong-kantong plastik bekas yang akan ia jual ke pasar tradisional.
‘’Coba ibu panggil. Barangkali ia sedang tidur. Bukankah kamarnya bersebelahan dengan tempat tinggal Bu Siti?’’.
‘’Ya. Saya sudah memanggil dia, tapi tak ada jawaban. Bahkan, pintunya terkunci dari dalam’’.
Mendengar itu Pak Mamat memandang tajam ke wajah Bu Siti. ‘’Lho, ada apa Mat? Kok kau memandangi aku seperti itu?’’.
‘’Itu dia masalahnya, Bu’’. Wajah Pak Mamat terlihat serius. Lalu ia bangkit dari duduknya. Kantong-kantong plastik bekas yang ia susun rapi tadi, ditinggalnya begitu saja. Ia segera bergegas ke tempat tinggal Pak Momo. Dengan perasaan penuh tanda tanya, Bu Siti mengikutinya dari belakang.
Sesampainya, Pak Mamat memanggil orang tua itu. Tapi tak ada jawaban. Bekali-kali ia panggil, tapi tetap tak ada jawaban. Ia segera mendobrak pintu kamar Pak Momo. Masya Allah! Pak Mamat dan Bu Siti kaget setengah mati. Mereka segera menutup hidungnya. Dari dalam kamar Pak Momo yang gelap, menyeruak aroma tak sedap. Sedangkan segerombol lalat hijau terbang berkerubutan. Dalam keremangan suasana, tubuh Pak Momo yang kaku terlihat biru membengkak. Ada beberapa belatung merayap di lengan dan mulutnya yang menganga. Sementara di sisi tubuhnya, biola kesayangannya tergolek begitu saja.
Melihat suasana seperti itu, wajar jika keadaan Pak Momo tak terdeteksi oleh warga di sekitarnya. Sebab, aroma bangkai dan bau busuk lainnya yang menebar di udara bebas, sudah menjadi hal biasa di lingkungan tersebut. Karena di situ ada trailer tempat pembuangan sampah orang-orang kaya. Warga di sekitar itu pun segera menyerbu ke kediaman Pak Momo. Perbincangan hiruk-pikuk warga mengenai orang tua malang ini menebarkan beragam persepsi. Setelah ditelpon, sejumlah polisi pun tiba di tempat itu. (*)

11 Januari 2008

Cerpen (6)

Ki Dalang Kastono Citro



SUDAH hampir lima bulan ini Ki Dalang Kastono Citro tidak mendapat order ndalang. Padahal di kampung seberang, ketika ada mantenan (pesta perkawinan) hari Minggu kemarin, warga di sana menampilkan pergelaran wayang kulit dengan cerita Broto Yudho.
Mengapa selama ini dia tidak pernah memperoleh order ndalang lagi? Hm, padahal di seputaran lima kampung di wilayah desa transmigrasi itu, nama Ki Dalang Kastono Citro dikenal sebagai dalang paling hebat. Ketika ia mendalangi berbagai cerita wayang purwa, tuturannya begitu hidup, sehingga penggambaran karakter tokoh di dunia perwayangan seolah nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu orang-orang di seputaran wilayah transmigrasi begitu mengagumi dia sebagai dalang paling jempolan. Lantas, mengapa sudah sekian lama ini ia tidak pernah mendapat orderan lagi dari warga? Ah, aneh. Sampai di situ ia hanya menyerahkan hidup dan matinya kepada Gusti Allah. Barangkali di balik itu akan ada hikmahnya. Ya, pasti ada hikmahnya.
Kastono melemparkan pandangan matanya jauh ke hamparan sawahnya yang kerontang merana. Di sana-sini terlihat rusak. Kerusakan itu disebabkan kemarau panjang, sehingga padi yang ia tanam kering kekuningan. Padahal sebelumnya, padi yang ia semai itu tumbuh subur, dan seluas mata memandang seperti hamparan permadani hijau yang menyejukkan perasaan.
Memikirkan nasibnya yang kurang beruntung tahun ini, Kastono benar-benar sedih. Di atas rumah-rumahan reyot yang terbuat dari atap daun rumbia di tengah sawah, ia menumpahkan segala kegalauannya.
Apalagi beras simpanan di rumah untuk cadangan makan sehari-hari pun hampir tandas. Jika teringat itu, ia jadi gelisah. Kemarin, tengkulak kejam yang memberi pinjaman uang dan obat-obat pertanian sebelum ia panen, sudah memberi batas angsuran agar ia segera melunasi utang-utangnya yang sudah melilit pinggang.
Dengan apa Kastono akan membayar utangnya kepada tengkulak itu? Padi yang ia harapkan dapat dijual untuk membayar utang dan membeli baju sekolah anaknya, gagal dipanen. Pikirannya benar-benar sempit. Sedangkan kegelisahannya mengenai itu sangat menyiksa.
Duduk dan tidur-tiduran di gubug daun rumbia di atas dangau sawahnya seluas satu hektare itu diharapkan dapat memenangkan jiwanya, ternyata tidak sama sekali.
Padahal, seperti biasanya, jika angin siang begini berhembus sepoi-sepoi, mata Kastono akan segera terpejam seperti lampu teplok kehabisan minyak. Tapi karena kehidupannya sedang dilanda kesulitan, perasaan Kastono cenderung menjadi gelisah. Makanya siang itu ia tak dapat memjamkan matanya ketika angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan.
Dari celah dinding daun rumbia gubuknya, larik-larik cahaya matahari siang menerpa kulit wajahnya yang gelap. Kekelaman kulit wajah Kastono menggambarkan penderitaan hidupnya yang tak kunjung usai. Meski begitu, ia selalu berusaha untuk tegar menghadapi berbagai tantangan hidup yang bagaimana pun pahitnya.
‘’Lho, Bapak ngelamun?’’ suara Ninuk mengejutkan Kastono. Anak perempuannya yang masih duduk di kelas lima Es-De itu datang mengantarkan makan siang untuk Kastono. Tak terdengar langkah kecilnya ketika menghampiri bapaknya di rumah-rumahan itu. Secara sontak lelaki ini bangkit dan menyusut airmata dengan punggung lengannya.
‘’Wah, kamu Nduk. Kok tidak mengucapkan salam dulu pada Bapak,’’ ujar Kastono tersenyum. Tapi sisa airmatanya masih terlihat di pipi kiri.
‘’Lha, Bapak menangis. Ada apa?’’ tanya gadis kecil itu heran. Wajah Ninuk yang lugu makin menusuk perasaannya.
‘’Ah, ndak, Nuk. Kalau menguap, mata Bapak seringkali berair. Tadi Bapak diserang kantuk yang luar biasa, sehingga menguap berkali-kali,’’ ujar Kastono berbohong.
Alis mata Ninuk bertaut. Baru kali ini ia melihat Bapaknya mencucurkan airmata. Padahal, selama ini Ninuk selalu diajarkan untuk tidak cengeng menghadapi kenyataan hidup yang bagaimana pun pahitnya. Tapi siang ini, Bapaknya terlihat cengeng?. ‘’Wah ini pasti ada apa-apanya,’’ begitu hati Ninuk berbicara.
‘’Bapak lapar? Makanya Ninuk cepat-cepat ke sini agar Bapak bisa makan siang secepatnya’’. Ninuk membuka bungkusan nasi yang ia bawa. ‘’Nih, ibu masak nasi jagung. Ada sambal goreng dan sayur gori. Cepat makan, Pak. Mumpung masih hangat,’’ kata Ninuk. Karena rasa lapar sudah menghentak sejak tadi, Kastono segera melahap santap siang yang diantar anak gadisnya itu.

*****

Malam semakin larut. Kastono dan istrinya, Ajeng, masih duduk di beranda depan sembari menikmati cahaya purnama yang bersinar keemasan di cakrawala lepas.
Suara radio transistor Cawang dua band di ruang tamu pondoknya, masih berceloteh sejak sehabis Maghrib tadi. Tampaknya, suasana kejawen seperti di kampung halamannya, Wonogiri Solo, terasa kental dalam kehidupan sehari-hari mereka di wilayah transmigrasi ini. Terutama ketika para waranggono (sinden) melantunkan sejumlah tembang Jawa dalam cerita wayang kulit lewat siaran RRI stasiun Jakarta.
‘’Yang penting kita harus legowo (jiwa besar) menerima cobaan berat dari Gusti Allah, Jeng. Kakang sudah berusaha sebisanya agar kehidupan kita di trans ini menjadi lebih baik. Tapi ternyata padi kita gagal dipanen,’’ ujar Kastono. Untuk menghilangkan himpitan perasaan di dadanya, ia menghela napasnya.
‘’Saya ndak bisa ngomong apa-apa lagi, Kangmas. Kenyataan hidup kita memang begini. Biarlah. Segalanya kita serahkan saja ke Dia. Gusti Allah lebih tahu dari segalanya,’’ tukas Ajeng sembari membersihkan tepung ubi kayu untuk dibikin panganan tiwul.
Kastono begitu terharu terhadap sikap istrinya yang begitu nrimo. Ia bersyukur dianugerahi istri sebaik Ajeng.
‘’Kakang bangga dengan sikapmu yang begitu luhur, Dimas. Semoga kelak jasadmu tiwas dalam keharuman surgawi,’’ ujar Kastono.
Kemudian lelaki itu menyulut rokok klobot dari daun kawung yang ia bawa dari Jawa, pada saat mudik lebaran tahun lalu. Stok rokok itu masih tersisa satu kemasan. Entah, ia tidak mengerti, kok malam itu ia kepingin sekali merokok daun kawung.
Asap yang ia hembuskan mengaburkan situasi teras depan. Sedangkan aroma kemenyan dari asap rokok itu menyeruak ke seantero ruangan. Kalau tidak biasa dengan suasana seperti itu, orang pasti mengira bahwa serombongan lelembut atau dedemit sedang pesta pora di tempat itu.
‘’Nggo Kang. Saya istirahat dulu. Awakku capek sekali,’’ tukas Ajeng sembari membawa niru berisi tepung tapioka itu ke ruang dalam.
‘’Ya, duluanlah. Kakang masih betah di sini,’’ ujar Kastono sembari menghembuskan asap rokoknya. Ia tampak menikmati suasana itu.
Baru lima isapan, dari depan gubuknya datang dua orang laki-laki berpakaian hitam serta mengenakan ikatan blangkon di kepalanya. Yang satu setengah tua, dan yang satunya lagi masih muda dan gagah.
‘’Kulo nuwun. Pripun kabare sampeyan, Ki Dalang?’’. Orang tua itu menyapa dan bertanya tentang kabar Kastono yang sedang asyik menikmati rokok klobotnya.
‘’Waduh, baik-baik saja. Siapa, ya?’’.
‘’Saya, Ki Dalang. Masak sampeyan lupa’’.
Kastono mengamati laki-laki itu. Matanya yang agak kemarahan menyipit sesaat. ‘’Welah, Pak Sarmanto, rupanya. Saya ini agak pangling. Meski sudah tua, sampeyan itu masih nggaya waee. Saya mendapat kehormatan sekali malam ini. Sebab, di gubug reyot ini didatangi seorang saudagar getuk lindri. Suasana ini sangat menggembirakan saya’’ seru Kastono tertawa, sehingga giginya yang kuning kecokelatan akibat candu rokok itu mengobral keramahtamahannya.
Kedua lelaki itu segera bersalaman dan berpelukan akrab sekali. Maklum, mereka berdua adalah sahabat karib yang sudah lama tidak saling memberi kabar.
‘’Oo iya, ini kenalkan. Ia keponakanku yang baru datang dari Jawa. Ia seorang insinyur pertanian lulusan Universitas Gadjahmada Jogja. Namanya Joko Pitolo. Hari Minggu Legi pekan depan, dia akan saya nikahkan dengan Yayuk Wulandari, anaknya Pak Kades Partijo,’’ ujar Sarmanto.
Mata Kastono berbinar-binar mendapat kehormatan seperti itu. ‘’Alhamdulliah. Semoga sampeyan hidup bahagia dengan gadis itu, ya Le,’’.
‘’Terima kasih, Paklek,’’ ucap pemuda itu seraya membungkuk hormat serta mencium tangan Kastono.
Pak Sarmanto segera mengutarakan maksud kunjungannya. Selain ingin mengundang Kastono sekeluarga pada pesta pernikahan keponakannya nanti, ia juga diminta untuk jadi dalang pada pergelaran wayang kulit dengan lakon Arjuno Wiwoho.
’’Tapi saya minta, tokoh punakawan, terutama sosok petruk jangan dikeluarkan dalam pergelaran wayang itu,’’ kata Sarmanto.
‘’Lho, kok bisa begitu?’’ tanya Kastono seperti orang tolol.
‘’Iya, Ki Dalang. Itu merupakan pantangan bagi warga di sana. Kalau masih mbandel, akan terjadi peristiwa yang menakutkan,’’ ungkap Sarmanto sembari mengeluarkan uang panjar kepada Kastono.
Wah, aneh sekali. Sepanjang ia berkarir di dunia pedalangan, baru kali ini Kastono memperoleh permintaan yang ganjil seperti itu. Tapi tak apalah. Toh, ia juga butuh uang dari jerih payahnya sebagai dalang. Pokoknya, apa yang dipesan orang agar ia mendalangi pergelaran wayang kulit lakon Arjuno Wiwoho akan ia patuhi. Sepanjang menyangkut fulus, oke-oke saja. Yang penting duit, duit, dan duit. Titik!
Sepekan telah berlalu. Hari yang dinati-nantikan itu pun tiba. Suasana pesta pernikahan Joko Pitolo dengan Yayuk Wulandari begitu meriah. Sebelas pasang tenda berlapis plafon kain sutra putih yang menyekap suasana pesta, kental sekali dengan tradisi Jawa. Umbul-umbul dan anyaman daun janur yang menghiasi tiang tenda, kian memperindah tiap sudut ruangan. Sedangkan alunan gamelan pengiring wayang kulit, membuat perasaan siapa pun seperti berada di tanah Jawa.
Di pentas panggung wayang kulit, gemuruh penonton yang lebur dalam lakon Arjuno Wiwoho, benar-benar menyemarakkan suasana. Kemampuan Ki Dalang Oerip Kastono Citro yang menjadi dalang dalam cerita itu, mampu mempengaruhi jiwa penonton. Apalagi kemerduan suara waranggono (sinden) yang melantunkan tembang dari satu episode ke episode lain dalam cerita itu, seakan menghipnotis penonton dari komunitas Jawa di kampung enam, wilayah transmigrasi itu.
Durasi cerita yang dibawakan Ki Dalang Kastono Citro begitu hidup. Tak terasa, alur cerita yang ia tuturkan sudah hampir tuntas. Bahkan, untuk memperpanjang cerita agar selesai tepat menjelang Subuh, Kastono sudah melakukan improvisasi dialog dengan para pesinden dan penabuh musik gamelan. Tapi suasana malam terasa begitu panjang dan melelahkan.
Sekujur tubuh Ki Dalang Kastono berkeringat. Bahkan keringat yang keluar dari pori-porinya terasa tidak enak. Kadang-kadang dingin, tapi juga terasa sumuk (sumpek). Kastono sudah begitu capek. Kelelahan yang mendera membuat ia nyaris tak berdaya, sehingga ia sudah tidak konsentrasi lagi menghidupkan setiap tokoh wayang yang ada di atas kotak di belakang tubuhnya. Tapi malam tetap terasa panjang dan menyekap perasannya. Gila! Ia belum pernah mengalami hal aneh seperti sekarang.
Karena jengkel dengan situasi seperti itu, akhirnya Ki Dalang Kastono mengeluarkan tokoh punakawan, antara lain, semar, gareng, petruk, dan bagong . Ketika tokoh Petruk melakukan dialog-dialog lucu, orang-orang di sekeliling itu justru panik.
Tiba-tiba di cakrawala yang gelap, gemuruh halilintar membelah angkasa. Lintasan kilat menyambar kian-kemari. Pada pengujung lidah kilat yang menyambar tenda, terjadi ledakan dahsyat. Rona merah api serta-merta mengaburkan pandangan. Semua perangkat pesta dan orang-orang yang ada di sekitar tempat itu tiba-tiba sirna.
Hanya tinggal Ki Dalang Kastono sendiri yang duduk di atas kompleks makam tua dengan tubuh bergetar sembari memegang tulang belulang manusia. Padahal sebelum kejadian, tulang-tulang itu merupakan sosok wayang seperti seperangkat tokoh punakawan yang terdiri dari petruk, semar, gareng, dan bagong. Ia lantas melemparkan tulang lengan dan rusuk manusia yang ada di tangannya. Suasana yang tadinya dingin mencekam, tiba-tiba terasa begitu panas, menyengat kulit.
Kastono menyipitkan matanya ketika memandang ke langit lepas. ‘’Astaga’’. Ia kaget setengah mati. Ternyata cahaya matahari yang begitu terik menggigit kulit, menyorot tajam tepat pukul 12.00 tengah hari. Kastono seperti disambar petir. Dari surau di ujung kampung, suara azan Zuhur menyadarkan perasaan Ki Dalang Kastono Citro dari suasana buruk semalam suntuk. Ternyata, ia telah melakonkan cerita Arjuno Wiwoho di tengah ratusan arwah orang yang telah lama mati. Ia takut bukan main. Dengan langkah gontai, ia bergegas meninggalkan kompleks perkuburan tua di kampung itu. Dalam hatinya, ia memutuskan untuk berhenti menjadi dalang

Palembang, 4 April 2007

Cerpen (5)

Ketika Badai Itu Menerjang



Tekad Teuku Mudien sudah bulat. Rencana pernikahan itu akan dilaksanakan bulan Januari nanti. Pokoknya harus terwujud. Ia sudah bosan tidur sendirian. Itu artinya, menapak ke tahun baru, Teuku Mudien akan memulai hidup baru pula. Ia akan menikahi Meutia, gadis manis yang ia cintai sejak tiga tahun lalu.
Yang ia kagumi dari sosok Meutia, karena gadis itu tidak mata duitan. Padahal, kalau Meutia mau, ada seorang pemuda yang bekerja di PT Semen Andalas akan mempersuntingnya menjadi istri. Tapi dengan cara halus Meutia menolak pemuda itu.
‘’Ah, calon istriku itu benar-benar gadis sederhana yang tidak memandang harta. Aku sangat beruntung menyintai gadis seperti dia,’’ begitu bisik hati Mudien.
Ia melihat arlojinya. Hm, baru pukul 7.30 WIB. Siang nanti, rencanannya Teuku Mudien akan mengajak Meutia foto berdua ke studio di Kota Teunom. Foto itu nantinya akan ditempel di akta nikah. ‘’Aku akan berekspresi sebaik-baiknya, agar hasilnya bagus dan terlihat tampan’’.
Tak seperti biasanya, hari itu wajah Mudien benar-benar cerah. Selepas mandi, ia bersiul-siul kecil menyenandungkan lagu yang tak jelas iramanya. Di kamarnya, ia membuka lemari pakaian yang sudah tua. Maklum, lemari pakaian tua itu merupakan warisan mendiang ayahnya.
Mudien segera mencocokkan baju putih yang ia beli di pasar Kecamatan Calang dua minggu lalu. ‘’Ah, untuk foto berdua dengan Meutia sebaiknya aku memakai baju ini saja. Lagi pula wajahku terlihat tampan mengenakan baju ini,’’ begitu Mudien bergaya di depan cermin.
Pintu depan berderit. Ibu Mudien baru pulang dari pasar. Suara batuknya terdengar dari kamar. ‘’Teuku. Kau sudah bangun dari tidur, Nak?’’ begitu suara Mak Bibah memanggil anaknya.
‘’Sudah, Mak. Bahkan saya sudah mandi,’’ jawab Mudien dari kamarnya.
‘’Ini, mak bawakan makanan kesukaanmu. Mak membelinya tadi di pasar,’’ tukas Mak Bibah disertai batuk yang membuat sesak napas orang tua itu. Teuku Mudien keluar dari kamar. Ia menyalami ibunya.
‘’Sebaiknya mak minum obat batuk yang Mudien beli di apotek kemarin. Obat batuk hitam ini cukup manjur, mak. Cobalah,’’ kata Mudien memberikan obat batuk botolan itu ke ibunya.
Sejak usia muda, Mak Bibah sudah terbiasa jualan di pasar Calang. Tiap hari ia menjual kue-kue yang diambilnya dari beberapa pelanggan di kampungnya. Sepulangnya dari pasar, ia akan membeli beras dan kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi ayah Mudien sudah meninggal ketika pemuda itu baru berusia delapan tahun.
Untuk membantu beban ibunya, setamat dari sekolah, Mudien ikut Bang Jaffar dagang ayam potong di pasar Meulaboh. Dari hasil kerjanya ikut Bang Jaffar, ia menerima upah Rp 15 ribu sehari. Jadilah. Yang penting, setiap hari, ia memperoleh upah lumayan. Maka, selama tiga tahun ia bekerja, selain dapat membantu meringankan biaya hidup keluarga, hasil tabungannya digunakan untuk biaya meminang Meutia.
‘’Mak, saya mau pergi ke rumah Meutia. Kami mau foto berdua untuk kelengkapan akta nikah,’’ ujar Mudien pamit kepada ibunya.
‘’Apa tidak kepagian, Teuku? Jam segini studio foto belum buka. Lagi pula tidak enak pagi-pagi bertandang ke rumah gadis,’’ jawab Mak Bibah sembari membawa belanjaannya ke dapur.
‘’Nggak apa, Mak. Saya sudah janji dengan Meutia dan sebelumnya saya juga sudah minta ijin kepada kedua orang tuanya,’’ ucap Mudien.
‘’Apa mak dan bapaknya merestui?’’
‘’Ya, mak’’.
‘’Ya sudah, mak juga merestui. Pergilah ke sana. Baik-baik membawa anak gadis orang ya. Jangan kau apa-apakan dia. Kalian belum menikah,’’ begitu Mak Bibah berpesan.
‘’Insya Allah. Lun nak jak, Mak. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum’’. Teuku Mudien mencium tangan ibunya.
‘’Wa’alaikumsalam,’’ jawab Mak Bibah pelan. Suaranya seperti menggumam. Pandangan wanita tua itu mengiringi kepergian anak semata wayangnya dari ambang pintu rumah. Hmm, anak sekarang. kalau ingin memenuhi segala kemauannya, apa pun diterjang. Orang tua itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Setelah bayangan Mudien menghilang di kelokan jalan, Mak Bibah menutup pintu rumahnya.

***

Di atas angkutan desa (angdes), Mudien dan Meutia membicarakan rencana pernikahan mereka. Pokoknya, segala persiapan untuk pesta pernikahan sudah dirancang sedemikian rupa. Tinggal pelaksanaan saja.
‘’Pesta ini hanya satu kali kita rayakan seumur hidup. Makanya, meski kita gelar secara sederhana, tapi harus meriah,’’ ujar Meutia dengan suara manja.
‘’Abang setuju’’.
Ketika melewati jalan kecil antara Meulaboh dan Kecamatan Calang, kendaraan yang mereka tumpangi itu terasa terguncang. Getarannya begitu hebat. Serta-merta Meutia merasa kecut. Ia memeluk erat lengan Mudien.
‘’Ah, seperti ada gempa, Bang’’.
‘’Tampaknya begitu’’.
Sementara di luar kendaraan, tampak orang-orang kampung yang tinggal di pinggiran jalan berlarian ke luar rumah. ‘’Ada gempa, ada gempa!’’ begitu mereka berteriak hampir berbarengan. Dengan wajah cemas, secara bergerombol, mereka lari ke lapangan sembari menggendong dan menuntun anak-anaknya.
‘’Allahuakbar, Allahuakbar!!’’ suara beberapa orang kampung menyenandungkan azan di lapangan terbuka.
Untuk mengetahui situasi, Mudien melemparkan pandangannya lewat jendela mobil. Karena kendaraan tak dapat melewati perempatan jalan antara Meulaboh dan Kecamatan Calang, akhirnya angdes yang mereka tumpangi berhenti di antara kerumunan orang.
‘’Ada apa, Bu,’’ tanya Mudien kepada seorang ibu yang berlarian mengapit bayinya di gedongan.
‘’Ada gempa berkekuatan besar,’’ jawabnya dengan napas memburu. Wajah ibu itu pucat pasih. Sementara ratap pilu dari orang-orang yang berlarian ke sana-sini membuat suasana semakin gaduh tak karuan.
‘’Maaf, kami mau pergi dari sini, karena takut ada gempa susulan,’’ kata ibu tersebut buru-buru pergi dari tempat itu.
Tiga menit setelah orang-orang kampung Calang meninggalkan tempat itu, gempa kembali bergetar. Kali ini guncangannya lebih besar dari getaran sebelumnya. Perasaan Mudien ciut juga. Karena takut, Meutia memeluk lengan kekasihnya erat-erat.
‘’Mari Bang, kita pulang saja. Tia takut terjadi apa-apa dengan mak, bapak, dan adik-adik,’’ suara Meutia diwarnai perasaan cemas.
Di antara riuh kepanikan orang-orang kampung, suara azan semakin ramai berkumandang. Terutama setelah ada beberapa rumah penduduk yang ambruk. Allahuakbar, Allahuakbar!!
Sambil berpegangan erat Mudien dan Meutia melarikan diri sekuat-kuatnya. Dari mulut mereka berdua tak henti-hentinya meluncur lafas istighfar. Astaqfirullahalaziem! Selamatkan keluarga kami, ya Allah. Ampuni dosa-dosa kami ya Allah. Allahuakbar!
Ucapan-ucapan sakral itu pecah dari mulut semua orang yang mengalami guncangan gempa berkekuatan besar itu. Dalam kekalutannya, mata Mudien menyapu ke segenap arah. Ia mencari angdes yang membawa mereka dari kampungnya. Ternyata kendaraan itu sudah tidak ada di tempat. Ah, Mudien kecewa.
Kepanikan masyarakat semakin menjadi-jadi setelah terdengar deburan air yang mengejar dari arah pantai. Mudien dan Meutia segara memperkuat langkah larinya.
‘’Ya Allah, apakah hari akan kiamat?’’ itulah kekhawatiran yang muncul dari dalam diri Mudien dan Meutia.
Tak lama di antaranya, dari sebelah utara Kecamatan Calang, air laut setinggi pohon kelapa menyerbu ke daratan tempat orang-orang kampung berlarian. Mudien dan Meutia benar-benar kalut. Meski pun begitu, mereka tidak melepaskan pegangan. Bila perlu keduanya rela mati bersama.
Sembari menghindari kejaran gelombang air laut yang berwarna keruh kehitaman, kedua sejoli itu berlari kencang bersama ratusan penduduk kampung Calang yang berserabutan mencari dataran lebih tinggi.
Malang tak dapat ditolak, mujur pun tak dapat diraih, Mudien dan Meutia akhirnya tergulung gelombang yang maha dahsyat itu. Dalam gelutan ombak yang memporak-porandakan apa pun di daratan, Mudien tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya pasrah terhadap Sang Takdir. Meutia yang ia cintai terlepas dari pegangannya. Ya, Allah!
Meski pun begitu, dalam gelutan ombak yang tak terkira dahsyatnya, kesadaran Mudien masih penuh. Sesekali, pandangan matanya masih sempat melihat kepingan-kepingan seng dan papan rumah penduduk luluh lantak disapu ombak. Sementara tubuh orang-orang kampung yang hanyut diterjang air laut, terhumbalang ke sana-sini. Tampaknya, ombak yang bergelombang dahsyat itu datang secara berlapis dan menggulung apa saja yang ada di daratan.
Mudien tak kuasa berteriak minta tolong. Pada saat gelombang tsunami yang maha dahsyat itu datang melimpahkan keganasannya, siapa yang dapat menghalangi keperkasaan-Nya?
Ternyata Tuhan berkehandak lain. Nasib Mudien masih mujur. Baju dan celananya yang compang-camping dihempas tsunami itu, secara kebetulan tersangkut di pelepah pohon kelapa. Akhirnya, seretan ombak yang menghanyutkan tubuh Mudien sejauh 15 kilometer, terhenti di sana. ‘’Ya Allah. Hanya mukjizat-Mu saja yang membuat hamba ini dapat terdampar di pelepah pohon ini’’.
Begitu gelombang reda, suasana di sekelilingnya luluh-lantak rata dengan tanah. Untunglah, ketika gelombang laut menyeretnya sejauh belasan kilometer, ia tidak terminum air berlumpur hitam itu, sebab, saat diterjang ombak, kesadarannya tetap terjaga.
Pengalaman hidup di luar akal sehat itu membuat perasaannya miris. Padahal Mudien sudah terbiasa dengan penderitaan hidup yang pahit. Dan, selama ini ia tidak pernah menangisi penderitaan hidupnya. Tapi ketika ia mengalami bencana alam yang dahsyat seperti itu, Mudien menangis juga. Ia tak kuasa membendung kesedihannya. Terutama setelah Meutia terlepas dari pegangannya, sehingga nasibnya tak diketahui.
‘’Meutia, dimana kamu?’’ sambil menangis meraung-raung, Mudien memanggil kekasihnya. Perasaannya semakin terguncang tatkala ia pun terkenang keselamatan ibunya di rumah.
Setelah gelombang reda, pelan-pelan Mudien turun dari pohon kelapa. Di atas tanah yang porak-poranda, Mudien justru bingung. Entah apa yang harus ia lakukan. Yang pasti, karena guncangan jiwa yang begitu hebat, lelaki muda itu hanya melongo, tidak tahu harus berbuat apa. Lama sekali ia tertegun di sana, hingga akhirnya ada seorang lelaki setengah baya menegurnya.
‘’Adik, mari kita pergi dari tempat ini. Tapi kau harus hati-hati, karena kepingan kayu dan seng rumah penduduk yang dihanyutkan banjir ini dapat melukai kaki kita,’’ kata orang itu sembari meraih lengan Mudien.
Pada saat yang sama, dari arah barat, datang lima orang korban gulungan gelombang tsunami. Pakaian mereka berantakan. Salah seorang perempuan di antara mereka menangisi keadaannya. Untunglah, lelaki paruh baya yang menuntun Mudien itu pandai membujuk dan menyejukkan perasaan wanita itu. Akhirnya wanita itu mengucapkan istighfar secara berulang-ulang.
‘’Adik-adik, kita tidak usah larut dalam kesedihan ini. Kita semua sedang dilanda kesedihan dan kepedihan yang dalam. Namun kita harus ingat, bahwa semua bencana yang datang, tidak terlepas dari kodrat yang Ia tentukan. Yakinlah, di balik semua ini pasti ada hikmah bagi kita semua,’’ begitu lelaki itu menyejukkan suasana hati orang-orang di sekelilingnya.
‘’Adik mau kemana?’’ tanya lelaki itu pada Mudien.
‘’Saya ingin mengetahui kondisi ibu dan calon isteri saya, Pak. Sebelum gelombang laut datang, saya mau foto berdua dengan calon isteri saya. Dalam gulungan ombak, ia terlepas dari pegangan saya,’’ ucap Mudien bercucuran airmata.
Lelaki itu berkerut dahi. ‘’Di mana rumahmu?’’
‘’Di kampung Calang’’.
‘’Wah, jauh dari sini, rupanya. Kalau begitu, kau harus melewati jalan ini, kemudian belok ke utara. Pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru. Kalau nasib baik, kau pasti akan bertemu ibu dan calon isterimu. Pergilah. Hati-hati, ya? ’’.
Mudien tak kuasa berbicara. Hanya airmatanya saja yang bercucuran tanpa henti. Ia menyalami orang itu dan segera berlalu dari sana.
Ketika ia tiba di kampung kelahirannya, suasana di sana sudah tak bisa dikenali lagi. Rumah tempat ia tinggal sejak kecil bersama ibunya, tercerabut oleh ganasnya gelombang tsunami. Akibat terjangan ombak, kampung tempat ia tinggal menjadi gundukan sampah yang bertebar di sana-sini. Tak ada lagi suara kicau burung. Dan, tak terdengar lagi suara ibunya yang melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Semuanya musnah. Segalanya binasa. Menyaksikan itu, perasaan Mudien sangat terpukul. Airmatanya kembali bercucuran. Oh emak, apakah mak selamat?

***

Sudah sepekan Mudien bertualang ke beberapa tempat untuk mencari informasi mengenai keberadaan ibu dan calon isterinya. Di posko-posko yang ia singgahi, Mudien tidak menerima kabar tentang keberadaan Meutia dan orang tuanya. Seolah kedua orang yang ia cintai itu raib ditelan bumi.
Ia benar-benar lelah. Pakaian yang ia kenakan sudah sangat lusuh. Itu pun ia peroleh dari posko bantuan di Kota Teunom, karena baju yang ia kenakan sudah compang-camping saat dihantam tsunami pada hari pertama gempa.
Sampai hari ketiga belas ia mencari tahu tentang keberadaan ibu dan keluarga Meutia, tapi sia-sia. Semua petugas posko bantuan hanya mengatakan belum menerima kabar tentang mereka. Oh Tuhan, kemana aku harus menemui mereka?
Dalam kondisi seperti itu, Mudien sudah tidak peduli lagi dengan kondisinya sendiri. Yang ada di pikirannya sekarang, kemana ia harus mencari keluarganya. Bahkan, himpitan batinnya yang begitu berat, tampaknya melampaui batas realita berpikir. Akibatnya, Mudien mengalami depresi hebat. Tiap mayat perempuan muda yang tergeletak di tepian jalan, dalam pandangannya adalah Meutia. Ia menangis sejadi-jadinya. Terkadang tangisan itu disertai gelak tawa menyayat. Apakah Mudien sudah gila?
‘’Adik, kuatkan batinmu. Ini cobaan buat kita semua. Kau jangan hanyut dalam arus kesedihan yang dalam. Karena hanya kau sendirilah yang dapat mengatasi kemelut ini. Bangkitlah. Tuhan tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Ingat itu,’’ suara lelaki separuh baya yang pernah ketemu Mudien di kampung Calang pada hari pertama badai tsunami melanda, menegur pemuda itu.
Tiba-tiba kesadaran Mudien pulih setelah lelaki itu menepuk bahunya pelan.. ‘’Astaghfirullah. Ada apa dengan saya? Oh, bapak rupanya. Kok bapak tahu saya ada di sini?’’
‘’Tak usah kau tanyakan itu. Dalam kondisi seperti ini, kita harus saling membantu. Apalagi masa pencarianmu masih panjang. Ayo bangkit. Cari ibumu di posko pengungsian Kota Banda Aceh. Barangkali ia ada di sana,’’ kata lelaki itu. Mimiknya sangat serius.
Antara percaya dan tidak, Mudien memandang lekat-lekat ke arah lelaki itu. Dari hari pertama badai tsunami meluluh-lantakkan Kecamatan Calang, lelaki inilah yang pernah membangkitkan semangatnya. Ketika batinnya sudah terlalu lelah, lelaki ini pula yang mendorong semangatnya.
‘’Siapakah bapak?’’
Lelaki itu hanya tersenyum. ‘’Nanti kita ketemu lagi. Pergilah ke Banda Aceh. Meski calon isterimu hilang, yang penting ibumu harus ditemukan. Sebaiknya kau ikut kendaraan militer yang akan memasok bahan makanan dan obat-obatan ke sana. Cepatlah, nanti kau ketinggalan,’’ katanya.
Meski digayuti tanda-tanya mengenai lelaki misterius itu, akhirnya Mudien mengikuti anjurannya. Ia mendatangi beberapa petugas untuk minta ijin diajak ikut truk militer yang akan mengantar obat-obatan ke posko pengungsian di Banda Aceh.
Dengan penuh selidik, para petugas itu memperhatikan keadaan Mudien. Lalu seorang di antaranya yang berwajah angker mengajukan pertanyaan, ‘’Ada keperluan apa anda ke sana?’’.
‘’Saya akan mencari ibu saya, Pak. Saya sudah mencarinya ke sana-sini, tapi tidak ditemukan juga. Ada kabar dari seseorang, ibu saya diungsikan ke posko pengungsian Banda Aceh. Makanya saya minta ijin ke bapak agar saya diajak serta pergi ke sana. Selain ibu, saya sudah tidak punya apa-apa lagi, Pak. Mohon ijinkan saya ikut truk ini’’.
Wajah Mudien begitu memelas. Melihat kondisinya, petugas itu menjadi iba. ‘’Silakan. Tapi anda harus duduk berdesakan dengan barang kiriman ini’’.
‘’Tidak masalah. Terima kasih, Pak’’.
Cuaca siang itu cukup panas, membuat suasana di posko pengungsian itu benar-benar sumpek. Ratusan pengungsi yang berjubel di sana membuat kondisi dalam tenda sangat menyesakkan. Suara tangis anak-anak dan erangan orang-orang terluka di tenda pengungsian itu menyentuh perasaan setiap orang.
Mudien turun dari truk militer. Ia segera ke tenda. Matanya menyapu ke setiap pengungsi yang ada di sana. Ada yang duduk meratapi nasibnya. Ada pengungsi yang mengerang kesakitan karena menderita luka yang cukup parah.
Di antara petugas medis yang sibuk bekerja, di sudut kanan posko terdapat seorang wanita tua duduk di atas kotak kayu. Matanya memandang hampa ke satu titik. Sementara mulutnya komat-kamit, sambil sesekali ia tertawa sendiri.
‘’Mak, emak,’’ begitu Mudien berteriak memanggil ibunya. Suaranya meninggi, sehingga pandangan semua orang nyaris mengarah ke dirinya. Ia merangkul tubuh ibunya. Pipi dan rambut ibunya yang putih menyeluruh itu diciumi Mudien. Namun wanita tua itu tidak bereaksi. Kondisi Mak Bibah seperti patung hidup. Tampaknya ia mengalami guncangan batin yang teramat hebat.
Melihat kondisi ibunya seperti itu, jiwa Mudien kembali terguncang. Ia sudah kehilangan tempat tinggalnya. Ia juga kehilangan calon isterinya. Namun yang lebih berat pukulan batinnya adalah kehilangan ingatan ibu yang ia kasihi. Ia sudah kehilangan segala-galanya. Yah Allah! Mudien berteriak histeris lalu terkulai tak sadarkan diri. (*)

Cerpen (4)

Paket Lebaran Penebar Maut



Hari kedua puluh Ramadan, keluarga muslim pasti repot untuk persiapan Idul Fitri. Terutama memersiapkan pakaian baru untuk anak-anak mereka. Namun tidak demikian dengan Nek Onik. Kemiskinan yang menjerat sepanjang kehidupannya, sangat sulit untuk mengikuti cara keluarga berada yang sudah lebih dulu mempersiapkan diri menyambut hari lebaran.
‘’Ya Allah, beri jalan keluar untukku Ya, Sang Pemberi rezeki. Kasihanilah nasib kedua cucuku ini. Mereka sudah bertahan untuk puasa sebisanya. Beri kesempatan kepada mereka untuk ikut bergembira di hari lebaran tahun ini,’’ begitu Nek Onik bermunajat kehadirat Ilahi dengan suara bergetar.
Selepas salat subuh tadi, airmatanya mengucur deras bak mutiara ke pipinya yang keriput. Apalagi saat ia memperhatikan dua cucunya yang masih tergolek di tempat tidur terbuat dari kayu bekas kemasan mesin jahit itu, begitu menguras perasaan ibanya. Sebelum pulas, Melati dan Kenanga berharap neneknya dapat membelikan baju baru untuk mereka, setelah terjaga dari tidur nanti. Ah, kemana aku harus mencari uang pembeli baju baru untuk kedua cucuku itu?
Nek Onik masih ingat bagaimana sore tadi kedua cucunya minta dibelikan pakaian baru seperti anak tetangga teman main mereka yang sudah dibelikan orang tuanya. Meski tidak memaksa neneknya, namun dari sorot mata kedua anak itu yang berkaca-kaca, mereka tentu minta dibelikan baju baru untuk lebaran.
‘’Sabar nak, ya. Nanti nenek ikut antre paket lebaran di kantor majikan nenek dulu. Kalau dapat, nenek janji akan membelikan pakaian untuk kalian berdua, ya,’’ begitu Nek Onik berusaha menyenangkan perasaan cucunya.
Tapi di balik hatinya yang terdalam, tersisip perasaan perih seperti ditusuk sembilu. Terutama ketika ia membayangkan bagaimana kedua cucunya begitu gembira mendengar ucapan neneknya yang janji akan membelikan baju lebaran.
‘’Horeee, Nenek akan membelikan baju baru untuk kita, Kenanga,’’ kata Melati kepada adiknya. Sikapnya yang lucu memaksa senyum Nek Onik merekah di bibirnya yang keriput. Melati menari-nari sembari menghayal memperagakan baju baru yang akan dibelikan neneknya nanti.
Hmm, sampai di situ Nek Onik sadar, apakah jika berhasil mendapat paket lebaran dari PT Onik Jaya Perkasa nanti cukup untuk membeli baju baru bagi kedua cucunya?
Orang tua yang pernah kena stroke ini berjalan tertatih ke tempat tidurnya. Ia membuka lipatan alas tidurnya. Di bawah lipatan kain itu terdapat ponjen (kantong uang dari kain) yang sudah kucel. Dalam ponjen itulah biasanya Nek Onik menyisakan sedikit keuntungan dari hasil dagangannya tiap pagi.
Jika tidak bulan puasa, biasanya Nek Onik mengambil dagangan ke pemubuat roti dan kue di kampungnya. Tiap hari, untuk menghidupi dua cucunya, Nek Onik berjualan roti goreng dan kue-kue. Ia menjajakannya ke seputaran kampung tempat ia bermukim. Jika nasib lagi bagus, Nek Onik masih memperoleh keuntungan sebesar Rp 20 ribu. ‘’Lumayan nak, untuk membeli dua kilogram beras, sayur, dan ikan asin buat makan dua cucuku,’’ tutur Nek Onik saat diwawancarai seorang wartawan penulis feature, beberapa waktu lalu.
Di bulan puasa ini, Nek Onik terpaksa harus libur. Ia tidak jualan kue. Namun untuk mengisi kekosongan aktivitasnya, orang tua itu membuat cendol dan dijualnya ke emperan pasar. Yah, meski untungnya tidak banyak, tapi cukup untuk mengatasi kebutuhan hidup dengan dua cucunya di rumah.
Ia melepas tali pengikat ponjen tersebut. Kemudian kantong uang itu dikuaknya. Dari dalam ponjen tersebut Nek Onik mengeluarkan uang recehan simpanannya. ‘’Wah, kalau uang simpananku ini dipakai untuk membeli baju cucuku, apakah aku bisa jualan cendol lagi. Ah, bagaimana ini?’’.
Nek Onik memutar otak untuk menggunakan uang simpanannya. Digunakan atau tidak? Tidak atau kugunakan untuk membeli baju cucuku? Ah, pikirannya jadi buntu. Tiga tahun lalu, Nek Onik harus menanggung beban untuk menghidupi Melati dan Kenanga. Beban berat itu terpaksa harus ia lakukan, karena Farida anaknya (ibu Melati dan Kenanga), tewas dibantai musuh suaminya.
Herman, suami Farida, pernah merampok toko emas dengan temannya, Firza. Tapi saat keduanya berhasil mengambil sekitar dua kilogram emas dari toko tersebut, Firza tertangkap polisi. Sedangkan Herman buron hingga sekarang.
Sepulang dari penjara, Firza berkunjung ke rumah Farida. Lelaki itu minta bagian emas hasil rampokan mereka kepada Farida. Meski Farida sudah bersumpah atas nama Allah bahwa dia tidak tahu sama sekali mengenai emas tersebut, Firza tidak percaya. Bahkan emosinya menggelegak tak terkendali.
Dengan sebilah parang tajam yang ia persiapkan sejak mendatangi rumah Farida, wanita malang itu tewas dibacok Firza dengan dua belas tebasan. Saat itu, leher Farida nyaris putus. Untunglah saat pembunuhan itu terjadi, cucunya Kenanga dan Melati sedang istirahat di rumah Nek Onik.
Mengenang kejadian tragis yang menimpa anaknya itu membuat Nek Onik trauma. Tapi orang tua ini selalu berdoa kepada Sang Pencipta, agar batinnya selalu terjaga. Kekuatan doa itulah yang membuat ia masih bertahan hidup hingga sekarang.
‘’Nek, mengapa Nenek menangis? Apa yang membuat nenek bersedih?’’ suara Melati membuyarkan lamunan Nek Onik.
‘’Ooo, tidak Nak. Nenek tadi membersihkan kolong tempat tidur nenek. Wuih, banyak sekali debunya. Makanya mata nenek kelilipan,’’ tukas Nek Onik mencoba tersenyum.
‘’Oo, Melati kira nenek menangis’’.
Nek Onik tersenyum sembari menggelengkan kepala. Ia memeluk dan menciumi cucunya yang baru bangun tidur itu. ‘’Hmm, bau ompol,’’ ucap Nek Onik menutup lobang hidungnya. Ia pun lalu tertawa renyah. Sembari menimang cucunya, Nek Onik menyuruh Melati mandi. ‘’Supaya tubuhmu segar, ayo mandi. Air sumur bagus untuk kesegaran tubuh kita pada pagi ini. Nanti nenek timba untuk kamu mandi, ya’’.

****

Setelah menitipkan Melati dan Kenanga kepada tetangganya, Nek Onik pergi ke PT Onik Jaya Perkasa untuk antre paket lebaran. Kebetulan ia dapat kupon dari petugas paket lebaran dari perusahaan tersebut yang sengaja membagikannya ke warga tidak mampu di kampung Nek Onik.
Padahal, pemilik PT Onik Jaya Perkasa (Hadi Jaya Subrata) pernah menjadi majikan Nek Onik. Ia bekerja dengan Pak Hadi selama 15 tahun. Sebelum dia memiliki perusahaan, Pak Hadi hanya seorang PNS golongan rendah. Sedangkan ayahnya pernah menjadi pengusaha kayu. Karena bahan bakunya habis, panglong ((pabrik penggergajian kayu) itu tutup. Karena itu di bekas areal panglong ayahnya banyak potongan kayu yang tidak termanfaatkan.
Nek Onik, saat mudanya di Jawa dulu, pernah bekerja sebagai perajin kayu bekas. Potongan kayu itu dibuat sajadah, tirai, dan tikar kayu untuk ruang tamu. Namun potongan kayu itu terlebih dulu dibubut, dihaluskan, dan dipolitur, kemudian disambung satu sama lain dengan drat sambungan. Hasil karyanya begitu memikat. Karena itu banyak pesanan dari luar Pulau Jawa yang meminta sajadah kayu bikinan Onik dalam jumlah besar.
Idenya itu disampaikan ke Pak Hadi. Seperti gayung bersambut, majikannya menerima ide tersebut. Baru dua bulan Hadi Subrata mengusahakan potongan kayu bekas di areal panglong ayahnya, sudah banyak pesanan dari luar kota.
Karena omzet pesanan kian meningkat, Pak Hadi membuka perusahaan dengan mengambil nama Nek Onik (PT Onik Jaya Perkasa). Tapi setelah perusahaannya besar, Hadi Jaya Subrata membuka cabang di Jakarta. Sedangkan manajemen PT Onik Jaya Perkasa di Palembang diserahkan ke adiknya. Sebelum pindah ke Jakarta, Pak Hadi meminta ke adiknya agar memperhatikan kebutuhan Nek Onik sehari-hari. ‘’Karena usaha ini berkat jasanya,’’ kata Pak Hadi kepada Pamuji.
Meski Pamuji menyetujuinya, tapi hingga kini ia tidak pernah mewujudkan pesan dan permintaan kakaknya. Itulah momen terakhir yang memisahkan Nek Onik dengan keluarga Hadi Jaya Subrata.
Antrean paket lebaran di PT Onik Jaya Perkasa sudah demikian panjang. Nek Onik merasa tidak berdaya ikut antre bersama orang ramai. Ia mencoba menemui Pak Pamuji. Tapi petugas paket lebaran melarangnya dengan gaya bahasa yang sangat ketus,’’Pak Pamuji tidak ada di tempat. Nenek harus ikut antre. Ayo, ke sana!’’. Petugas itu mendorong tubuh Nek Onik yang renta.
Meski hatinya sakit mendengar hardikan petugas tersebut, namun Nek Onik tak punya pilihan lain. Ia pun akhirnya ikut antre. Saat paket lebaran mulai dibagikan cuaca siang begitu terik. Karena kegerahan, suasana mulai kacau. Saling dorong pun terjadi. Posisi Nek Onik yang berada di dua jalur kekuatan itu pun terjatuh. Ia terinjak-injak para pengantre. Suara teriakan minta tolong dari mulut wanita tua itu sia-sia. Orang-orang mulai kesetanan untuk mengambil paket lebaran yang dibagikan.
Petugas paket tak dapat mengatasi kekalutan tersebut. Saat polisi datang ke tempat kejadian, nyawa Nek Onik sudah melayang. Ia tewas seketika dalam kekacauan itu. Dari mulut Nek Onik meleleh darah segar. Dengan wajah pucat orang-orang yang ikut atrean tersebut hanya mampu saling pandang seperti orang tolol. (*)

5 September 2007

Cerpen (3)

Bohak


MALAM semakin tua. Cahaya bulan berwarna keemasan di langit lepas, menerobos lewat kisi-kisi dinding penjara. Bulatnya sudah tidak benjol lagi. Itu pertanda, usianya sudah memasuki hitungan keempat belas hari penuh.
Sementara dengkur napas para narapidana yang sudah terlelap sejak selepas isya, terdengar beragam. Seolah di sel tahanan berukuran satu setengah kali dua meter itu sedang diadakan latihan pernapasan bersama.
Namun pada malam berakhirnya masa penahanannya di rumah tahanan itu, Bohak tak dapat memejamkan mata. Padahal sejak tadi ia sudah menguap berkali-kali. Ada perasaan gembira setelah selama 15 tahun ia menjadi penghuni sel tahanan nomor 8B, karena besok, tanggal 17 Agustus, ia akan bebas menghirup udara segar lagi, di luar tembok penjara.
Karena itu, bermacam khayal indah berputar-putar di benaknya. Di lantai tahanan yang dingin, dengan berbantal lengannya sendiri, pikirannya melayang ke anak dan istrinya yang ia tinggalkan. Membayangkan nasib anak dan istrinya yang sangat menyayanginya selama ia menjalani proses hukum, ia jadi menangis sendiri. Ah, alangkah luhurnya sikap istriku.
Bahkan, selama di penjara, istri dan kedua anaknya selalu membesuknya. Dalam perjumpaan sesaat itulah, ia selalu mengutarakan berbagai persoalan dengan keluarganya. Barangkali, hal itu pulalah yang menyadarkan dirinya bahwa berpisah dengan keluarga sangat tidak menyenangkan. Ia kerapkali mendekap perasaan rindu terhadap anak dan istrinya. Hal ini pulalah yang membuat kepekaan sosialnya semakin menebal.
Selama mendekam di penjara, ia tidak pernah berbuat gaduh atau memberi "salam perkenalan" (menyiksa) kepada tahanan baru. Padahal namanya sangat disegani di lembaga pemasyarakatan itu.
Ia sudah bersumpah kepada dirinya sendiri, untuk tidak melakukan perbuatan buruk lagi, meski dalam bentuk apapun juga. Bahkan, jika ada sesama napi yang berbuat kasar terhadap "pendatang baru", sikap Bohak justru menjadi "pahlawan". Tak heran jika di antara sesama napi, Bohak dianggap sebagai narapidana yang dituakan.
''Ya Allah, ampuni dosa hamba-Mu ini. Setelah bebas dari hukuman ini, hamba berjanji pada diri sendiri, untuk tidak berbuat dosa lagi,'' ujar Bohak dalam doa terakhir sehabis salat tahajud.
Air matanya menggenang dan meluncur ke permukaan pipi. Ia mamasrahkan diri setulus-tulusnya kepada Sang Maha Pengampun. Cucuran air matanya benar-benar melumatkan keangkaramurkaan di dalam dirinya.
Tepat di usianya ke-42 tahun itu, Bohak benar-benar sadar. Sebab, selama ini, hampir separuh dari hidupnya, ia selalu tenggelam di dunia hitam. Jika tidak mencuri, ia merampok nasabah bank yang membawa uang jutaan rupiah. Modalnya cuma nekat dan senjata api rakitan.
Jika melawan, Bohak tidak segan-segan menembak atau melukai mangsanya. Pokoknya, di dunia hitam, nama Bohak dikenal sebagai perampok ganas dan sangat kejam.
Setelah terakhir ia merampok direktur sebuah perusahaan konstruksi di kotanya, ia tertangkap. Direktur tersebut ia tembak di bagian kepalanya. Karena itu hukuman yang harus dijalaninya di penjara semakin berat setelah sang direktur tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.
Akibat aksinya, ia terpaksa harus mendekam selama 15 tahun setelah palu hakim berdentang menghantam meja hijau sebanyak tiga kali. Dia terhentak. Hantaman palu itu menggetarkan hatinya.
Perasaan takut dan bersalah pun menghimpit sanubarinya. Ia menangis di depan hakim. Dalam persidangan itu, ketika ditawarkan apakah Bohak akan naik banding, ia cuma menggeleng. Bahkan ritme tangisnya semakin mengguncang tubuhnya. Ia terhenyak ke lantai ruang sidang. Peci penutup kepalanya terjatuh di lantai. Jangankan berdiri, untuk mengambil peci itu pun Bohak tak mampu.
Padahal, seberat apapun persoalan yang ia hadapi selama ini, ia tetap tegar dan angkuh. Tak setitik air mata pun tumpah ke pipinya. Sikapnya yang angkuh itulah makin memberi kesan bahwa Bohak benar-benar penjahat kejam. Itulah gambaran 15 tahun lalu, ketika Bohak yang masih tegar dan angkuh itu, harus dipapah keluar dari ruang sidang.

***
Pukul 9.30 WIB, Bohak dipanggil Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) di kotanya. Ia harus menandatangani surat pembebasannya. Wajah Bohak tampak cerah. Terutama sorot cahaya matahari pagi yang membias dari kaca jendela ruang kerja Kalapas, memantul ke wajahnya.
''Anda tahu bahwa masa hukumanmu berakhir hari ini?'' tanya Kalapas. Raut wajah Kalapas yang berkumis tebal itu benar-benar berwibawa.
Bohak tak mampu menjawab. Ia hanya mampu menganggukkan kepala. Padahal, jika mengingat mentalnya dulu, dalam proses verbal di hadapan polisi, ia sanggup bertatap mata secara tajam dengan petugas. Sehingga wajahnya pernah pecah dan berdarah dihantam popor senjata, karena petugas yang memprosesnya merasa tersinggung dengan tatapan mata Bohak yang tidak bersahabat itu.
''Kok Anda melamun? Tidak ada kegembiraan menyambut hari pembebasanmu?'' suara Kalapas membuyarkan lamunannya.
''Oh, maaf Pak. Karena terlalu gembira, pikiran saya sejenak melayang ke anak istri saya, Pak,'' jawab Bohak sekenanya.
Kalapas tersenyum. ''Istrimu sudah menunggu di ruang besuk. Sudah sejak dua jam lalu ia menantikan kepulanganmu,'' ujar Kalapas.
''Terima kasih Pak.''
Kalapas hanya mengangguk. ''Saya berharap Anda tidak pernah masuk kesini lagi. Untuk itu, perbaiki sikap Anda di dalam hidup bermasyarakat. Tidak ada yang lebih berharga selain dari sebuah kebebasan dalam melaksanakan tanggung jawab hidup. Karena itu, berbuat baiklah sesama makhluk hidup.''
Nasihat Kalapas itu benar-benar menyentuh perasaan Bohak. Mau tak mau, air matanya menggenang di pelupuk mata. ''Saya akan mengingat segala nasihat Bapak,'' kata Bohak dengan suara tersendat menahan tangis.
''Nah, tanda tangani berkas pembebasanmu ini,'' ujar Kalapas sembari menyodorkan seberkas akta pembebasan Bohak.
Dengan tangan gemetar karena haru, Bohak segera menandatangani berkas pembebasannya. Saat itu, tepat di luar ruang kerja Kalapas, terdengar suara burung murai yang berkicau merdu. Bohak jadi teringat dengan sejumlah burung peliharaannya di rumah. "Ah, burung-burungku, apa kabar kalian." Demikian bisik hatinya.
''Silakan, sekarang Anda sudah bebas. Anda akan diantar oleh sipir kami.'' Kalapas menyodorkan tangannya. Bohak menyambut hangat. Selepas bersalaman, Bohak diantar dua orang sipir keluar dari penjara.
Di pintu depan, ia sudah dinantikan istri dan keluarganya. Dengan tangan terbuka, sang istri menyambut hari pembebasan Bohak. Lama sekali ia memeluk istrinya.
''Istriku, selepas ini, aku tidak ingin melakukan hal-hal yang merugikan orang lain lagi. Dengan sisa uang simpanan yang ada, aku akan membangun keluarga kita. Agar kedua anak kita itu kelak menjadi manusia-manusia terhormat,'' ujar Bohak berbisik di telinga istrinya.
''Semoga saja, Mas. Aku berharap pembebasanmu menjadi momentum bagi kemajuan keluarga kita,'' jawab istrinya yang sudah sejak tadi dihujani tangisan haru.
Begitu dramatik pertemuan antara suami-istri itu. Karena secara fisik, mereka telah dipisah oleh tembok penjara yang kokoh, selama 15 tahun. Karena itu, istrinya tak begitu saja melepas pelukannya. Segala kerinduan, keharuan, dan perasaan marah yang tertunda, dilampiaskannya lewat pelukan itu.
''Selama ini, kau benar-benar seorang bajingan yang tak bertanggung jawab, Mas,'' cetus istrinya dengan nada pelan dan tersedak oleh tangisan.
''Yah, aku memang bajingan yang tak bertanggung jawab. Tapi yakinlah, untuk ke depan, aku berjanji akan berusaha untuk mengangkat derajat keluarga kita,'' jawab Bohak. Ia tak tersinggung dengan ucapan istrinya yang cukup pedas di telinga. Karena ia sadar, istrinya punya hak untuk melampiaskan segala kekecewaan dan kemarahan yang mengendap selama ini.
''Ungkapkan segala kemarahanmu, agar segala himpitan batinmu selama ini dapat terbebas. Karena kebebasan dalam bentuk apapun, sangat bernilai bagi siapa saja. Aku menghargai itu, istriku.''
Sekarang, Bohak benar-benar paham arti kebebasan. Dengan kata lain, kebebasan bagi makhluk hidup, ibarat ikan tak dapat dipisah dari air.
Justru, selama di penjara, kebebasan Bohak dibelenggu oleh petak ruangan yang teramat membosankan. Ia berbaur dengan bermacam sikap para pelanggar hukum yang sadis dan sok jagoan. ''Hmm, aku muak sekali.''
Setibanya di rumah, semua burung peliharaannya ia lepas, termasuk burung nuri kesayangannya yang sudah pandai bicara itu.
''Pergilah burung-burungku. Kembalilah ke habitat kalian. Karena kalian berhak mengenyam kebebasan di dunia ini. Bebaslah!'' begitu suara Bohak saat melepas sejumlah burung peliharaannya.
''Bebaslah, bebaslah,'' terdengar suara cadel burung nuri kesayangannya, membeo suara tuannya sendiri. Satwa cantik berwarna-warni itu terbang ke ranting pohon jambu air. Seolah ia mengisyaratkan salam perpisahan kepada tuannya. Bohak tersenyum. Tak sadar tangannya melambai ke burung kesayangannya yang menghilang di rerimbunan daun.

Palembang, 25 Juni 2003

Cerpen (2)

PAK HAJI DOBLANG


SEJAK dua tahun terakhir, aku kurang simpatik dengan sikap Pak Haji Doblang. Selain angkuh, ia juga kurang menghargai orang lain. Mentang-mentang orang kaya dan punya rumah mentereng, seolah ia tidak butuh adanya kehadiran orang lain.
Ketidaksukaanku terhadap sikap Pak Haji Doblang semakin tajam, tatkala aku melihat sendiri, ia mengusir seorang pengemis dan menghardiknya pergi. Bahkan, dengan tongkatnya ia mengancam akan memukul pengemis tua yang tampak kelaparan itu.
''Pergi sana. Aku sudah berkali-kali memberi uang kepada sekian banyak pengemis. Karena itu, sebelum kesabaranku hilang, aku harap kau hengkang dari sini!'' begitu hardik Haji Doblang dengan mimik marah. Roman mukanya merah padam.
Sedangkan tongkat yang ada di tangannya nyaris mengenai tubuh sang pengemis. Dengan tubuh gemetar, pengemis itu tampak pasrah. Kalau Haji Doblang memukul dengan tongkat yang dipegangnya, sang pengemis, pasti tak mampu mengelak.
Ya Allah, alangkah kejinya sikap Haji Doblang. Terhadap orang miskin yang butuh pertolongan, ia bersikap kasar. Begitukah sikap orang kaya yang sudah pergi ke tanah suci? Pertanyaan ini mengusik sanubariku. Namun dari lubuk sanubari itu pula ada jawaban bahwa tidak semua orang kaya bersikap seperti Haji Doblang.
Airmataku meleleh melihat keadaan pengemis itu. Dengan tubuh lunglai dan rasa takut yang menggigit perasaan, pengemis itu berlalu dari pelataran rumah Haji Doblang.
Aku merogoh saku celana. Ah, uangku tinggal dua ribu rupiah lagi. Padahal, uang itu sudah kucadangkan untuk ongkos oplet ke tempat aku bekerja. Tapi, ah, lebih baik aku berikan saja ke pengemis itu. Karena ia lebih membutuhkan uang tersebut daripada aku sendiri.
Namun aku kaget setengah mati, setelah melihat ke arah kepergian sang pengemis, ternyata ia sudah tidak ada di tempat. Padahal, aku perkirakan, luas lapangan rumah Haji Doblang, sekitar enam ratus meter persegi. Sedangkan langkah pengemis itu lambat dan tertatih. Wah, alangkah cepatnya pengemis itu menghilang. Aneh!

**
Selepas salat dzuhur di mesjid yang biasa kusinggahi, aku menyandarkan tubuh ke dinding berporselen putih. Para jemaah salat sudah banyak yang meninggalkan ruangan. Hanya aku sendiri masih betah duduk di sana. Apalagi siang itu cuaca sangat panas. Sedang di dalam mesjid, udaranya begitu sejuk, sehingga aku malas keluar dari ruang salat.
Di ruang itu, pikiranku agak tenteram. Namun peristiwa pagi tadi tetap mengusik perasaanku. Padahal aku sudah berusaha keras untuk melupakannya. Tapi karena sikap Haji Doblang yang kasar dan sombong telah melukai perasaan orang miskin, gejolak perasaanku tak mudah melupakan peristiwa itu.
Hmm, Pak Haji Doblang, pengusaha kayu yang bertubuh tambun itu, tidak sadar kalau harta yang berlimpah miliknya akan melaknat dirinya sendiri jika kelak ia datang menghadap Sang Mahakaya.
Padahal, sekian persen dari harta yang ia miliki itu ada milik orang lain. Apalagi kayu-kayu yang ia jual ke pasar bebas di ibukota adalah hasil tebangan liar anak kapaknya di hutan-hutan lindung. Ini juga yang mengotori sekian banyak kekayaannya. Ih, sikapnya benar-benar kelewatan!
Karena udara di ruang mesjid begitu sejuk, rasa kantuk tiba-tiba menyerang begitu hebat. Mulutku menguap berkali-kali.
''Assalamu'alaikum, anak muda. Dari getaran energimu, aku merasa bahwa perasaanmu saat ini sedang berduka,'' ujar seseorang seraya mengumbar senyum bersahabat. Ia segera menjulurkan tangannya untuk menyalami aku. Aku segera menyambutnya dengan senyuman.
''Wa'alaikumsalam,'' jawabku.
''Kau menyimpan rasa tidak suka terhadap seseorang, anak muda?'' tanyanya.
''Betul. Kok, Anda tahu kalau di hatiku saat ini sedang ada rasa marah terhadap seseorang?''. Ia tertawa. Dan, aku segera memperbaiki posisi duduk.
''Rasa marah yang ada di dalam dirimu itu jangan kau bawa ke alam tidur. Akibatnya dapat menjelma menjadi mimpi buruk di dalam kehidupanmu sehari-hari. Bahkan, apabila kau pertajam rasa marahmu ke orang yang bersangkutan, dirimu akan berdosa. Itu artinya, sikapmu tidak lebih baik dari dia,'' tukas orang itu.
''Lantas, apa yang harus aku lakukan agar kebencianku terhadap sikap seseorang itu dapat dibersihkan?''.
''Pertanyaan yang cantik. Sesungguhnya, nilai-nilai kebencian di dalam diri seseorang akan muncul apabila ia mengalami atau menyaksikan ketidakadilan yang terjadi di depan matanya. Tetapi, jika kita ikut membenci ketidakadilan itu, berarti nilai kita tidak jauh beda dengan orang yang berbuat ketidakadilan tersebut''.
Alisku jadi bertaut, karena aku tidak mengerti apa yang dikemukakan orang itu. ''Kok aku jadi bingung?''.
''Wajar. Karena kau belum memahami sebab dan akibat yang terjadi dalam setiap perilaku hidup seseorang''.
''Misalnya?''.
''Yah, misalnya kau membenci sikap seseorang, seperti Pak Haji Doblang yang angkuh dan terkesan tidak membutuhkan kehadiran orang lain di lingkungannya itu,'' kata orang itu sembari membuka peci putihnya, serta menggaruk-garuk rambutnya yang keperakan.
Aku terbelalak. ''Kau mengenal Pak Haji Doblang?''.
Dia tertawa. ''Aku hanya mengetahui siapa Haji Doblang dan ada persoalan apa antara kau dan dia, dari kekuatan energimu sendiri'' tukas orang itu. Aku semakin tidak mengerti.
''Nah, bingungkan?''.
''Yah, bingung sekali,'' jawabku seperti seorang bocah yang baru belajar hitungan aritmatika.
''Anak muda, hakikat ke-haji-an yang disandang seseorang, belum tentu mencerminkan kebersihan dan kewelasasihan hatinya. Sebab, gelar haji yang ia peroleh, hanya dipahami sebatas predikat diri sepulang dari tanah suci. Pandangan semacam ini memang sangat sempit. Karena itu mereka tidak mampu memasuki nilai-nilai yang terkandung di dalam substansinya, sebagai haji mabrur,'' kata orang itu.
Orang itu kemudian menjabarkan bahwa hakikat haji itu adalah penyucian diri lahir batin bagi seorang muslim. Gelar seorang muslim tertinggi yang ia peroleh setelah selama empat puluh hari menyerahkan diri ke hadirat Allah SWT di tanah suci, ia 'berjanji' untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas kepribadiannya (iman). Jika 'janji' itu menitik ke dalam hati nuraninya, maka nilai ke-haji-annya akan menjadi rahmatan lil 'alamin bagi kehidupan ini.
''Lalu, bagaimana dengan sikap Pak Haji Doblang?'' tanyaku.
''Itulah cermin dari nilai haji yang tidak menitik ke relung hati nuraninya. Dengan begitu, predikat hajinya ibarat sehelai baju yang dikenakan ke tubuh. Jika bajunya dibuka, maka akan terlihat gambaran panau dan penyakit kulit yang ada di tubuhnya''.
''Aku mengerti. Ternyata ke-haji-an Pak Haji Doblang
hanya predikat sampiran yang tidak sampai ke nilai makna. Kok, Bapak tahu persis kegalauanku terhadap Haji Doblang?''
Orang itu tertawa. ''Karena pengemis yang dia usir itu adalah aku sendiri,'' jawab orang itu sembari mengusap wajahku.
Aku kaget setengah mati. ''Astaghfirullah''. Bayangan orang itu segera hilang pada saat posisiku berada pada tingkat sadar dan tertidur.

Palembang, 23 Juni 2003

Cerpen (1)

Petak-petak catur


Sepulang tahlilan dari rumah sepupunya yang tewas terbunuh, perasaan Paitok was-was. Terkadang, dalam perjalanan pulang ke rumah, matanya selalu awas dan melirik ke sana-sini.
Sebab, semasa hidupnya, sepupunya --Mat Kukul-- dikenal sebagai preman yang sering membuat onar di mana pun ia berada. Dia tewas akibat dendam dari seorang preman pasar berwajah codet yang pernah ia tikam tulang belikatnya, setahun lalu.
Karena itu Paitok takut kalau-kalau nanti ada preman lain yang akan membalas dendam, sehingga jiwanya akan terancam dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Apalagi keluarga preman yang bermusuhan dengan korban di kampung itu tahu betul kalau Paitok adalah saudara sepupu Mat Kukul.
Korban, selain dikenal pemarah dan sok jagoan, setiap kali mabuk minuman keras, selalu mengganggu siapa pun yang kebetulan melintas di hadapannya. Pokoknya, jika ia sedang mencekik leher botol minuman, tak seorang pun berani lewat di depannya. Risikonya, kalau tidak 'dipajaki' (dimintai duit), orang tersebut akan dipukuli jika tidak disukai Mat Kukul. Bahkan, kalau nasib sedang apes, Mat Kukul tak segan-segan main pisau untuk melukai 'mangsanya'.
''Kenapa gelisah dan berjalan tergesa-gesa, Nak,'' tanya seseorang dengan nada suara berat dan parau. Seketika darah di sekujur tubuh Paitok seakan terhenti. Ia kaget setengah mati. Karena pertanyaan itu muncul di ssmpingnya secara tiba-tiba. Apalagi listrik PLN di jalan kampung itu padam sebelum maghrib tadi.
''Oh, saya harus segera pulang Pak, karena sejak tadi ada teman yang menunggu saya di rumah,'' jawab Paitok sekenanya. Dari keremangan suasana yang mulai gelap, ia sempat melirik ke samping kiri. Dilihatya seorang laki-laki tua bersarung kotak-kotak hijau, berbusana muslim dan bersorban putih. Di kulit wajahnya yang kuning bersih itu terdapat kumis dan janggut putih keperakan.
Paitok heran, kok ada lelaki yang berjalan di sampingnya. Padahal ketika ia turun dari rumah panggung selepas tahlilan dikediaman Mat kukul, rasanya ia jalan sendirian. Tapi secara tiba-tiba ada lelaki tua yang berjalan mengiringinya. Wah, aneh sekali! Perasaan Paitok
semakin tidak karuan.
''Tak usah risau. Di dalam agama disebutkan bahwa dosa seseorang tidak mungkin ditimpakan oleh Allah SWT ke lain orang. Baik buruknya, siapa yang berbuat sesuatu, maka dia sendirilah yang akan menerima ganjaran dari apa yang telah dilakukannya. Seperti dosa yang telah dilakukan Mat Kukul selama ini, misalnya. Jadi tidak perlu takut terhadap siapa pun kecuali kepada Sang Mahapenentu. Karena tidak akan ada orang yang akan mengancam jiwamu dari peristiwa terbunuhnya Mat Kukul''.
''Tapi bukankah Mat Kukul ini banyak musuh dan dikenal suka menganggu orang pada saat dia mabuk minuman keras?''.
''Karena itulah dia tewas terbunuh. Peristiwa buruk yang sering ia timbulkan dari perilakunya yang buruk, memaksa orang lain menjadi dendam dan melampiaskan keangkaramurkaannya lewat senjata tajam. Akibatnya Mat Kukul binasa,'' jawab orang tua itu.
Paitok diam. Rasa takut akibat ancaman sepulang dari tahlilan itu agak berkurang. Tapi keheranannya terhadap lelaki tua yang berjalan di samping kirinya semakin menjadi-jadi. Apalagi langkah lelaki tua itu tidak terdengar sesaat setelah Paitok turun dari tangga kayu ulin (unglen) rumah Mat Kukul almarhum.
Dalam perjalanan pulang secara bersama, orang tua itu mengatakan, waspada itu perlu. Namun jika rasa takut menghantui seseorang secara berlebihan, maka porsinya akan merusak akidah (iman) yang ada di dalam diri seseorang. Apalagi rasa takut yang muncul tidak didasari alasan yang jelas.
''Meski rasa takut adalah bagian dari hidup manusia, namun kita tidak boleh memanjakan itu. Karena dosa yang dilakukan Mat Kukul semasa hidupnya, dia sendirilah yang akan menerima segala risikonya. Karena itu, kalau kau merasa takut atas segala kekeliruan yang dilakukannya selama ini, berarti akan muncul penilanan bahwa selama ini kau telah ikut andil menjadikan seorang Mat Kukul sebagai bandit yang meresahkan masyarakat''.
Paitok terbelalak mendengar penuturan akhir orang tua di sampingnya. Apa yang dikatakannya memang benar. Ia tidak perlu takut. Karena dosa yang diperbuat Mat Kukul selama ini, merupakan dosa pribadinya yang tidak mungkin dilimpahkan ke orang lain.
''Kata hatimu itu memang benar. Dosa seseorang tak mungkin ditanggung oleh orang lain. Jadi jangan takut. Setiap langkah hidup pasti ada risikonya sendiri. Ibarat sebuah strategi permainan, di papan catur tergambar petak hitam-putih yang menentukan setiap langkah. Dan, setiap orang pasti ingin memilih petak putih sebagai cerminan perbuatan baik. Jika tidak hati-hati, mereka akan tergelincir ke petak hitam yang memenjarakan kebersihan hati manusia dalam gelimang dosa. Ingat, petak-petak catur ibarat jalan kehidupan yang menentukan arah, kemana kita menuju. Apabila salah memilih, kita akan masuk ke dalam petak hitam yang meresahkan masyarakat, seperti ulah Mat Kukul semasa hidupnya. Jika sudah begitu, risikonya akan mati terbunuh,'' tutur orang itu panjang-lebar.
Mendengar tuturan orang tua itu, wajah Paitok seperti raut muka orang tolol. Ia tak mengerti, kok orang itu dapat membaca pikirannya?
Tiba-tiba lamunannya buyar ketika segerombolan orang berjalan cepat ke arah dirinya. Ah, ada apa? Nyalinya ciut seketika. Ia merasa ada cairan hangat yang membasahi celananya. Untuk berlari, kakinya sudah seperti terpaku ke bumi. Degup jantung Paitok seolah akan berhenti. Oh Tuhan, apakah ajalku tiba?
''Mas Paitok, terima kasih. Selama ini kau telah memperjuangkan perdaimanan antara warga kampung kami dengan orang-orang di seberang desa sana. Akibat ulah Mat Kukul selama ini, warga desa seberang seringkali menyerang warga kami dengan senjata tajam. Karena perjuangan Mas Paitok menyelesaikan persoalan kami, maka kedua pihak sudah damai,'' teriak seseorang di antara gerombolan yang datang.
Orang-orang itu menjulurkan tangannya. Mereka ingin menyalami Paitok. Karena rasa takut yang berkecamuk di dalam dirinya demikian hebat, maka pandangan Paitok gelap seketika. Ia tergeletak pingsan. Ternyata, rasa takut telah melelehkan keberaniannya. Orang-orang kampung segera mengusungnya ke balai desa. Sementara orang tua --lawan bicara Paitok- hanya tersenyum dan menghilang dalam gelap.


Palembang, 3 April 1987